Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dikenal luas dengan ragam kuliner tradisionalnya yang kaya rasa dan sarat nilai budaya.
Namun di balik gudeg dan sate klathak, tersimpan kuliner yang kerap disebut “tabu” karena bahan dan cara konsumsinya yang tidak lazim bagi banyak orang. Emprit utuh dimakan bersama tulangnya serta codot rebus menjadi dua sajian yang sering memancing rasa penasaran sekaligus kontroversi.
Simak berbagai berita dan informasi menarik lainnya yang bisa Anda temukan di seputaran Kuliner Ekstrim.
Daftar Isi
Emprit Utuh, Kecil Tapi Penuh Cerita
Emprit atau burung pipit dikenal sebagai hama sawah, namun di beberapa daerah Bantul justru diolah menjadi hidangan khas. Burung kecil ini biasanya digoreng kering atau dibacem, lalu dimakan utuh bersama tulangnya. Proses memasak yang tepat membuat tulang emprit menjadi renyah dan mudah dikunyah.
Bagi penikmatnya, sensasi makan emprit terletak pada tekstur kriuk dan rasa gurih alami yang muncul tanpa banyak bumbu. Emprit sering disajikan sebagai lauk pendamping nasi hangat dan sambal pedas, menciptakan perpaduan rasa sederhana namun kuat. Banyak yang menyebut, sekali mencoba, rasa penasaran justru berubah menjadi ketagihan.
Meski demikian, konsumsi emprit juga menimbulkan kekhawatiran terkait populasi burung dan keseimbangan ekosistem. Beberapa pihak mendorong agar praktik ini dilakukan secara terbatas dan tidak masif, sehingga tidak merusak lingkungan serta tetap menghormati alam.
Codot Rebus, Antara Mitos dan Kenyataan
Codot atau kelelawar buah menjadi kuliner yang jauh lebih kontroversial. Di Bantul, codot biasanya dimasak dengan cara direbus lama bersama rempah-rempah untuk menghilangkan bau menyengat. Dagingnya kemudian disajikan sederhana, tanpa banyak olahan tambahan.
Sebagian masyarakat percaya daging codot memiliki khasiat tertentu, seperti meningkatkan stamina atau menyembuhkan penyakit tertentu. Kepercayaan ini berkembang dari cerita turun-temurun yang hingga kini masih diyakini oleh sebagian orang. Faktor inilah yang membuat codot tetap dikonsumsi meski banyak yang merasa ragu.
Namun di era modern, konsumsi codot kerap dikaitkan dengan isu kesehatan dan zoonosis. Para ahli kesehatan mengingatkan pentingnya kehati-hatian, mulai dari proses pengolahan hingga konsumsi, guna mencegah risiko penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.
Baca Juga: Mengenal Gaebul, Makanan Laut Ekstrem Yang Populer Di Korea
Daya Tarik Wisata Kuliner Ekstrem
Meski menuai pro dan kontra, kuliner tabu Bantul justru menarik perhatian wisatawan pencinta kuliner ekstrem. Mereka datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk memahami cerita budaya di balik hidangan tersebut. Bagi wisatawan, pengalaman mencicipi emprit dan codot menjadi kisah unik yang sulit dilupakan.
Beberapa warung tradisional menyajikan hidangan ini secara terbatas dan tidak dipromosikan secara masif. Biasanya, informasi hanya menyebar dari mulut ke mulut. Hal ini membuat kuliner tersebut terasa eksklusif dan penuh tantangan bagi yang ingin mencoba.
Namun pengelola wisata dan pemerintah daerah cenderung berhati-hati. Mereka menekankan pentingnya edukasi, keamanan pangan, serta keberlanjutan lingkungan agar kuliner ekstrem tidak menjadi bumerang bagi citra pariwisata daerah.
Antara Pelestarian Budaya dan Tantangan Zaman
Kuliner tabu Bantul berada di persimpangan antara pelestarian budaya dan tuntutan zaman modern. Di satu sisi, makanan ini mencerminkan sejarah dan kreativitas masyarakat dalam bertahan hidup. Di sisi lain, ada tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan standar kesehatan, etika, dan konservasi.
Sebagian generasi muda mulai meninggalkan kuliner ini, memilih makanan yang lebih umum dan aman. Namun ada pula yang justru berupaya mendokumentasikan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya, meski tidak lagi dikonsumsi secara rutin.
Pada akhirnya, emprit utuh dan codot rebus tetap menjadi simbol keberanian dan keunikan kuliner Bantul. Bagi yang berani mencoba, hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman budaya yang penuh cerita, kontroversi, dan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam.
Manfaatkan juga waktu Anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang semua kuliner ekstrim di dunia lainnya hanya di Kuliner Ekstrim.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.merdeka.com
- Gambar Kedua dari hiling.indozone.id
